its getting harder you know, pretending everything is ok, and will always be ok.
my heart cry, if i could, i want to yelling at you. tell you what i feel..
push the boundaries
Saturday, October 15, 2011
Monday, May 16, 2011
Monday, October 11, 2010
hot and cold
begitulah keadaan cuaca akhir2 ini, lagi panas terik, tiba2 bisa ujan deres bgtu aja, tanpa ada rintik-rintik terlebih dahulu. labil sekali bukaaaan? hahahaa..
kondisi saya pun seminggu terakhir ini rada mirip dengan judul postingan ini. tapi ga pake labil yaaa.. hahaa..
entah ini disebabkan oleh tamu bulanan atau saya yang menjadi semakin sensitif gara2 jadi orang yg rada cuek? loh, sensitif tapi kok cuek? aduh..gimana y jelasinnya? gini deh..saya yang sekarang cukup berbeda dari saya yang dulu, lebih cuek a.k.a lebih rasional di banding dulu (fyi, dulu saya adalah tipe perempuan yg hampir selalu menggunakan perasaan dalam bertindak), tapi jadinya ya begini..klo lagi sendiri, jadi sensitif. yang tadinya hepi hepi, bisa tiba2 jadi sedih..
yang lagi dancing dancing, tiba2 malah nangis.. tapi tenang, saya belom gila kok.. buktinya, saya masih bisa nulis disini untuk ngejelasin, sebelom orang2 mulai menyimpulkan bahwa saya gila. :D
entahlah, rasanya seperti kehilangan passion. itu sih yg sebenernya bikin saya hampir gila.. untuk masalah kehidupan, saya ga suka banget sama perumpamaan "let it flow" .. hey, i have a goal,so if i pass mylife defenselessly, when will i get that goal?
but now i`m losing my way to get that.. huhuhuhu.. what should i do?
oke, mulai OOT..
sebenernya ga ada yang salah dengan kondisi hot and cold.. yang salah justru adalah cara kita menyikapi kondisi tersebut. klo di bumi,orang2 mulai menyikapi kondisi tersebut dengan green peace *eh,bener bukan sih? itu loohhh.. gerakan yg reduce,reuse,recycle.klo salah mohon dikoreksi yaaa..* atau gerakan2 lainnya, for save our world.
nah, klo buat kehidupan saya sendiri,jujur aja saya ga punya gerakan apa2. :P
yang saya punya, hanya hati dan keinginan untuk tetap menjadi diri sendiri. i`m happy to be me. itulah satu2nya cara saya untuk menjaga eksistensi saya di dunia *saelaaah bahasanyaaa..* hahaa.. saya ga perlu menjadi orang lain. ketika saya menangis, mungkin saya sedang lelah dalam menghadapi tekanan hidup. jadi, biarkanlah saya menangis.karena ketika saya sudah merasa lega,saya akan kembali ke kondisi stabil dan saya bisa menjalani hidup saya dengan penuh semangat. jangan justru dimarahin atau dimusuhin atau dicampakkan *oke,rada lebay..* karena itu ga akan memperbaiki keadaan. justru makin memperkeruh keadaan.
beda sama bumi, ketika bumi menangis (bencana alam dsb), mungkin dia memang sedang sedih. sedih karena perlakuan manusian yang makin ga tau diri. udah mana numpang hidup,ga tau terima kasih pula.. grrr..* bumi, saya ngewakilin kamu buat marah2 yaaa..hihihi * dan kalo bumi udah sedih, itu merupakan tanda. bahwa kita harus merubah sikap. sedikit2 belajar berterimakasih sama bumi, dan menjaganya. jangan sampe dia sedih lagi.. gawat soalnya.. ribuan jiwa bisa melayang kalo doi lagi sedih :)
jadii, sebenernya apa sih yang mau sampein di postingan ini?
ga ada..
hahahahahaa..
saya pengen curhat, tapi dengan kepandaian mengolah kata yang seadanya malah mencoba ngasi perumpamaan seperti kondisi bumi, yang makin lama makin
ga nyambung..so,lebih baik disudahi saja.. daripada para pembaca makin bingung dan menganggap bahwa sang penulis emang bener2 udah gila.. hahaa..
well, don`t blame the condition.. blame yourself for that condition, because you make it happened :)
- me, oct 11, 2010 ditengah kewarasan jiwa yg mulai dipertanyakan -
kondisi saya pun seminggu terakhir ini rada mirip dengan judul postingan ini. tapi ga pake labil yaaa.. hahaa..
entah ini disebabkan oleh tamu bulanan atau saya yang menjadi semakin sensitif gara2 jadi orang yg rada cuek? loh, sensitif tapi kok cuek? aduh..gimana y jelasinnya? gini deh..saya yang sekarang cukup berbeda dari saya yang dulu, lebih cuek a.k.a lebih rasional di banding dulu (fyi, dulu saya adalah tipe perempuan yg hampir selalu menggunakan perasaan dalam bertindak), tapi jadinya ya begini..klo lagi sendiri, jadi sensitif. yang tadinya hepi hepi, bisa tiba2 jadi sedih..
yang lagi dancing dancing, tiba2 malah nangis.. tapi tenang, saya belom gila kok.. buktinya, saya masih bisa nulis disini untuk ngejelasin, sebelom orang2 mulai menyimpulkan bahwa saya gila. :D
entahlah, rasanya seperti kehilangan passion. itu sih yg sebenernya bikin saya hampir gila.. untuk masalah kehidupan, saya ga suka banget sama perumpamaan "let it flow" .. hey, i have a goal,so if i pass mylife defenselessly, when will i get that goal?
but now i`m losing my way to get that.. huhuhuhu.. what should i do?
oke, mulai OOT..
sebenernya ga ada yang salah dengan kondisi hot and cold.. yang salah justru adalah cara kita menyikapi kondisi tersebut. klo di bumi,orang2 mulai menyikapi kondisi tersebut dengan green peace *eh,bener bukan sih? itu loohhh.. gerakan yg reduce,reuse,recycle.klo salah mohon dikoreksi yaaa..* atau gerakan2 lainnya, for save our world.
nah, klo buat kehidupan saya sendiri,jujur aja saya ga punya gerakan apa2. :P
yang saya punya, hanya hati dan keinginan untuk tetap menjadi diri sendiri. i`m happy to be me. itulah satu2nya cara saya untuk menjaga eksistensi saya di dunia *saelaaah bahasanyaaa..* hahaa.. saya ga perlu menjadi orang lain. ketika saya menangis, mungkin saya sedang lelah dalam menghadapi tekanan hidup. jadi, biarkanlah saya menangis.karena ketika saya sudah merasa lega,saya akan kembali ke kondisi stabil dan saya bisa menjalani hidup saya dengan penuh semangat. jangan justru dimarahin atau dimusuhin atau dicampakkan *oke,rada lebay..* karena itu ga akan memperbaiki keadaan. justru makin memperkeruh keadaan.
beda sama bumi, ketika bumi menangis (bencana alam dsb), mungkin dia memang sedang sedih. sedih karena perlakuan manusian yang makin ga tau diri. udah mana numpang hidup,ga tau terima kasih pula.. grrr..* bumi, saya ngewakilin kamu buat marah2 yaaa..hihihi * dan kalo bumi udah sedih, itu merupakan tanda. bahwa kita harus merubah sikap. sedikit2 belajar berterimakasih sama bumi, dan menjaganya. jangan sampe dia sedih lagi.. gawat soalnya.. ribuan jiwa bisa melayang kalo doi lagi sedih :)
jadii, sebenernya apa sih yang mau sampein di postingan ini?
ga ada..
hahahahahaa..
saya pengen curhat, tapi dengan kepandaian mengolah kata yang seadanya malah mencoba ngasi perumpamaan seperti kondisi bumi, yang makin lama makin
ga nyambung..so,lebih baik disudahi saja.. daripada para pembaca makin bingung dan menganggap bahwa sang penulis emang bener2 udah gila.. hahaa..
well, don`t blame the condition.. blame yourself for that condition, because you make it happened :)
- me, oct 11, 2010 ditengah kewarasan jiwa yg mulai dipertanyakan -
Thursday, June 24, 2010
Wednesday, June 23, 2010
positive thinking
Terima kasih kepada seorang sahabat yang telah menyadarkanku bahwa tidak ada yang sia-sia, apa yang terjadi ataupun diciptakan di muka bumi ini. Semua pasti ada tujuan dan maksudnya, mengapa itu terjadi, dan mengapa itu diciptakan. Jadi optimislah dalam hidup ini.
Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik. Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin saja kita pernah atau bahkan sering mengalami pengalaman buruk yang tak mengenakkan (bagi diri kita dan menurut pandangan kita), maka keburukan itu hanya karena kita melihat dari salah satu sisi mata uang saja. Bila kita berani menengok ke sisi yang lain, maka kita akan menemukan pemandangan yang jauh berbeda. Dan yang terpenting adalah janganlah pernah ber-negative thinking (berprasangka buruk) tentang apa yang telah diberikan Nya kepada kita untuk kita jalani. Karena ingat, Dia lah yang Maha Tahu, Maha Segalanya. Selalu berprasangka baik (positive thinking), dan yakinlah pasti ada hikmah di balik semua nya.
Sikap optimis dalam menghadapi kehidupan tidak harus ditunjukkan dengan wajah yang tersenyum terus atau menampakkan wajah yang selalu ceria. Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di muka. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis. Orang yang optimis, akan memandang hidup jauh ke depan, dengan penuh impian dan mempunyai tujuan. Tujuan dalam kehidupan harus kita miliki, agar kita sebagai nakhoda bagi kehidupan kita sendiri tau bagaimana mengarahkan kemudi kehidupan kita dan ingin dibawa kearah mana. Individu - individu yang optimis lah yang benar - benar sangat menyadari bahwa sesungguhnya kehidupan ini ibarat PERMAINAN CATUR, “the game of life is lot like ches … you have to tackle your problem, blok your fears, and score your points when you get the opportunity “, == hidup bagaikan permainan catur … hadapi masalah, taklukan rasa takut dan menang ketika kesempatan itu datang…
Saya pribadi setuju dengan falsafah ini, dan juga sangat meyakini bahwa kesempatan itu tidak bisa hanya ditunggu sampai kesempatan itu datang. Serta sangat tebal juga keyakinan saya bahwa Yang Maha Kuasa itu sesungguhnya telah menganugerahi kita talenta agar bisa memberdayakan segala kemampuan kita secara maksimal dan optimum untuk menciptakan berbagai kesempatan dan peluang, jangan bertopang dagu menunggu hingga kesempatan itu datang tiba - tiba kehadapan kita.
Sedangkan pesimistis adalah suatu bentuk kebodohan karena kita tidak menyusun suatu rencana untuk suatu tujuan yang akan kita capai, tapi kita sudah menyerah sebelum berperang. Padahal Allah berfirman “Aku tidak merubah nasib hambaKu, jika dia sendiri tidak berusaha mengubahnya,” dan “Aku sesuai prasangka Hamba-Ku”.
Jadi apakah kita mau selalu bersikap pesimis, dan beranggapan bahwa apa yang akan kita lakukan hanyalah sia-sia belaka?
Jadi apakah kita mau selalu bersikap pesimis, dan beranggapan bahwa apa yang akan kita lakukan hanyalah sia-sia belaka?
Renungan:
Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu bahwa mereka mengalir menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan, kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di samudra, setiap tetes air tahu, bahwa suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke puncak-puncak gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rerumputan, sebagian tertampung dalam sumur-sumur. Sebagian kembali ke laut.
Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu bahwa mereka mengalir menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan, kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di samudra, setiap tetes air tahu, bahwa suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke puncak-puncak gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rerumputan, sebagian tertampung dalam sumur-sumur. Sebagian kembali ke laut.
Semoga bermanfaat
Subscribe to:
Posts (Atom)
